Monday, April 07, 2008

Tentang Tiga Garis Paralel






Osamu Tezuka adalah 'bidan' sejumlah manga dahsyat diantaranya Astro Boy. Tapi yang membuat saya terpaku nyaris sepanjang bulan lalu (yang penuh kekisruhan dan haru biru) adalah karya Tezuka yang berkisah tentang Buddha. Tezuka dengan dahsyat berhasil menyampaikan epic multi lapisan yang luar biasa kompleks dengan cara yang bisa dimengerti siapa saja. Tak ada esensi yang hilang, juga tak perlu petuah petatah-petitih yang sok akademis tapi kok kisah yang sarat nilai itu tak terasa menjadi terlalu berat meski juga tak kehilangan bobot dan menjadi kelewat ringan? Kerap kita bisa tertawa, kerap terdiam, sesekali ikut deg-deg-an mengikuti perjalanan para tokohnya. "Semua mahluk hidup di dunia ini saling berhubungan.." salah satu kalimat Buddha yang menjelaskan kenapa tak seharusnya manusia saling bunuh, dan juga kenapa manusia tak seharusnya membunuh mahluk hidup lain.

Tino Saroengallo adalah 'bidan' sejumlah iklan, film layar lebar, film dokumenter yang lalu menulis buku "Ayah Anak Beda Warna!" (Tembi, Yogyakarta, 2008) yang bicara soal pemberontakannya selaku putra Toraja yang hidup di kota (baca: Jakarta). Buku ini lantas jadi penting karena ditulis dengan gaya penulisan orang pertama di mana si penulis menjadi tokohnya dan melewati proses yang tak main-main dalam memberontak terhadap adat yang menurutnya tidak berpihak kepada kehidupan. Miliaran rupiah mengalir untuk upacara kematian di Toraja, sementara kehidupan masyarakat setempat masih jauh dari makmur sejahtera. Bayangkan kalau uang pengeluaran untuk upacara itu digunakan untuk hal yang lebih esensial seperti yang didongengkan janji pembangunan di zaman ORBA? Itulah antara lain gugatan Tino terhadap kewajiban menjalankan adat yang menurutnya sudah 'menyalib' para pelakunya dari waktu ke waktu.

Randy Pausch adalah profesor yang populer di Carnegie Mellon dan dua tahun silam divonis hanya punya sisa waktu hidup 3 bulan. Ia didiagnosa mengidap kanker pankreas stadium akhir. Randy Pausch lalu mengakhiri karir cemerlangnya di Carnegie Mellon dengan memberikan kuliah terakhir berjudul The Last Lecture yang di-download tak kurang oleh 6 juta orang di seluruh dunia! "Saya tak hendak bicara soal kanker, juga tidak tentang keluarga saya, saya akan bicara soal impian masa kanak-kanak," katanya di hadapan para kolega dan mahasiswanya hari itu. Randy Pausch berkisah tentang masa kanak-kanaknya yang menyenangkan, kala itu kedua orang tuanya membiarkannya mengecat kamarnya sesuka hati, dan karenanya ia tahu ia kelak akan meraih apapun impiannya kala dewasa. Dan ia memang meraihnya, ditambah dengan seorang istri dan tiga putra cilik yang tak akan bisa ia dampingi hingga mereka dewasa. Randy berkata pada akhirnya ada sejumlah hal penting bagi setiap orang untuk meraih impian masa kecilnya: jangan pernah mengeluh, selalu mengatakan hal yang benar, selalu mampu berterima-kasih dan bersyukur, selalu mampu meminta maaf dengan tulus, dan selalu bersabar dalam melihat kebaikan semua orang. The Last Lecture diniatkan Randy Pausch sebagai pesan pribadi yang kelak akan dipahami ketiga putranya saat dewasa.

Tiga garis paralel yang digurat oleh Osamu Tezuka, Tino Saroengallo, dan Randy Pausch ini entah kenapa, mampir ke kehidupan saya dalam waktu yang nyaris bersamaan. Kenapa saya bilang paralel? Karena ketiganya berpihak pada kehidupan. Dan kalau kita mau membuka mata sedikit lebih lebar, keberpihakan kepada kehidupan ini relevan untuk kondisi sekarang yang serba skeptis, dan menariknya ada satu tempat di dalam diri tiap orang yang senantiasa berpihak kepada kehidupan. Apapun resikonya. Sehingga rasanya jadi dangkal sekali bila banyak orang yang sering menuding penyikapan yang pro-kehidupan itu identik dengan hal-hal duniawi semata. Bila seseorang lalu memilih menjadi ekstrim dengan alasan kehidupan sesudah mati jauh lebih penting, di sinilah 'ujian' terbesarnya bagi siapapun yang punya nalar dan nurani. Karena itu penghargaan terhadap kehidupan sekaligus membelanya memang tidak mudah. Yang jelas membela kehidupan berarti harus berani bersikap. Dan setiap pengambilan sikap kerap harus dibayar dengan harga mahal. Dan ini bedanya menyikapi hidup dengan asal hidup. Yang kedua bisa jadi lebih gampang, tapi bisa jadi juga lebih menjerumuskan. Pertanyaannya berapa orang yang berani 'bayar mahal'?
Catatan:
"Buddha", Osamu Tezuka, bisa dicari di toko-toko buku terkemuka, sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia yang asik oleh Gramedia Pustaka Utama. "Ayah Anak Beda Warna!" Tino Saroengallo, diterbitkan Tembi (Yogyakarta), entahlah bisa Anda cari dimana, karena di luar bobot buku ini yang di atas rata-rata, buku ini hanya dicetak 1000 eksemplar karena bukan chick-lit atau teen-lit yang dipredikisi bisa laris manis, jadi silakan berjuang mencarinya. Kuliah terakhir Randy Pausch bisa di-download di internet, ada versi asli 78 menit maupun yang lebih ringkas. Linknya? Adduuh, cari sendirilah yaa..kalau pintar cut and paste harusnya juga pintar dong menggali bahan dengan beragam 'search engine'.












1 comment:

nik.e said...

menarik sekali
saya sudah pernah baca resensi ttg buku Tino, dan kebetulan juga pernah melihat langsung upacara kematian di Toraja yg memang besar-besaran dan ternyata menghabiskan biaya yang membuat bergidik.
Sekarang, saya jd kepengen nyari ttg Tezuka dan Pausch.