Monday, May 14, 2007

Kontrol Film a la Idi Amin




Di tahun 1974, sutradara Perancis kondang, Barbet Schroeder membuat dokumenter mengenai diktator Idi Amin Dada.

Proses bikin film memang kontradiktif dengan konsep kediktatoran, dan tak mengherankan bila kisah di balik layar pembuatan dokumeter itu, jadinya lebih menarik daripada apa yang terlihat di filmnya sendiri.

Bagaimana mau beres? Di mana-mana, urusan pengambilan gambar harusnya jadi 'call' sutradara. Tapi berhubung 'bintang'nya adalah salah seorang diktator terkeji abad lalu, ya lupakanlah. Cinematographer film itu mengingat bagaimana Idi Amin jadinya lebih berkuasa daripada Schroeder. Perebutan 'kekuasaan' di lokasi antara Amin vs. Schroeder kerap bak film kartun. Misalnya, Amin pernah tiba-tiba menyuruh sang kamerawan mengambil gambar helikopter yang melintas di udara. Idi Amin tentunya penganut paham 'apa yang gue mau, gue harus dapet!' Ia pasti tak mau tahu perkara tehnis, boro-boro relevansi gambar helikopter itu di film nantinya. Lebih sinting lagi, Idi Amin juga minta diberi sederet kredit bukan saja sebagai aktor, tapi produser, juga komposer, dll di film itu. Mampus!

Alhasil, Schroeder pun membuat 2 versi suntingan, dengan harapan bisa mengelabui 'badan sensor tunggal' tak lain si diktator edan Idi Amin itu. Versi pertama dibuat untuk diedarkan di Uganda. Setelah diperlihatkan ke Amin, ia gembira-ria, karena film itu menurutnya menggambarkan citra yang tepat soal dirinya kepada publik Uganda. Apakah perkara kelar hingga di situ? Belum.

Schroeder dan timnya membawa versi suntingan kedua untuk ditayangkan di luar Uganda. Tapi Idi Amin punya sejumlah ide kreatif untuk memperpanjang kewenangannya bahkan hingga keluar Uganda. Jadi, iapun mengutus 'utusan daerah' lah, katakan saja begitu, untuk menyaksikan pemutaran film versi Schroeder saat ditayangkan di Perancis. Bukan hanya disuruh nonton, utusan tersebut harus membuat transkrip rinci hingga ke titik dan koma. Hasilnya dilaporkan ke pimpinan Uganda yang punya sederet gelar buatannya sendiri dan harus selalu ditulis dengan lengkap oleh media setempat yang meliputnya, 'His Excellency President for Life Field Marshal Al Hadji Dr. Idi Amin, VC, DSO, MC, King of Scotland Lord of All the Beasts of the Earth and Fishes of the Sea and Conqueror of the British Empire in Africa in General and Uganda in Particular'. Laporan soal film ini rupanya tak berkenan di hati Amin. Ia menekan Schroeder untuk menyunting sejumlah adegan yang menurutnya tidak tepat. Schroeder tentu menolak mentah-mentah, apalagi dia sudah meninggalkan Uganda!' Engga ada urusan kalee', begitu pikirnya. Schroeder salah duga.

Idi Amin pun menyandera 200 warga Perancis yang saat itu berada di Entebbe, dan mengumumkan bahwa nasib mereka sepenuhnya ada di tangan Schroeder! Tak ada cara lain, Schroeder pun membabat dokumenter versi 'director's cut' nya itu sesuai dengan 'tuntutan' sang diktator. Kisah macam ini memang sulit dicerna logika, tapi tidak akan pernah ada yang logis dalam pola tindakan yang didasarkan pada azas kediktatoran. Yang jelas dunia kreatif/artistik memang sulit 'nyambung' dengan kesewenang-wenangan.




4 comments:

rangga said...

Klien menyandera AE, sementara tim kreatif ngebut nyelesain revisi...

It could happen... hehehe

be angel said...

interesting...
relevan dengan di-launched-nya PERMEN Iklan dalam negri :D

mbak Prims, blognya aku link yaa! ;-)

Prima Rusdi said...

silakan mels! thanks. Prima

dlumenta said...

Ha ha, ketika Schroeder menyangka bisa leluasa ngibuli si Idi Amin di luar Uganda, Idi Amin gantian leluasa mencuri kesempatan ketika Air France mendarat dgn paksa di Entebbe.

Ini namanya the colonized seizing globalisation !! (dan ini tahun 1976 kan?)