Sunday, May 06, 2007

Janji di Empat Kota..




Alkisah, pernah ada empat kota yang dikenakan perjanjian tidak akan pernah tersentuh bom saat Perang Dunia II berlangsung. Keempat kota itu adalah: Oxford, Cambridge, Heidelberg, dan Gottingen. Alasan memberlakukan peraturan bebas bom itu tak lain karena keempat kota ini dianggap sebagai pusat pendidikan penting di Eropa.
Dan janji itu tak pernah dilanggar. Alhasil itu juga alasan kenapa orang tua saya dengan restu kakek-nenek saya pernah ngandon di Heidelberg dan entah kenapa ibu saya lalu pindah ke Gottingen dan sayapun numpang lahir di sana. Dalam kaitannya dengan topik tulisan ini, soal 'janji', kelihatannya, dulu-dulunya memang pernah ada perjanjian tak tertulis di antara ayah saya dengan ortunya yang minta jaminan ketenangan batin dengan membuat ayah saya berjanji untuk tidak keluar dari empat kota bebas bom itu.
Balik lagi ke soal janji. Dahsyatnya PD II tentunya tak bisa disangkal. Namun rupanya satu hal yang layak kita salut adalah soal urusan pegang janji itu. Yang entah kenapa di zaman modern ini justru semakin rentan. Jangankan perjanjian tertulis atau terbuka macam itu, kualitas komunikasi yang berhubungan dengan etika memang kelihatannya makin rajin dilanggar. Dan itulah yang kerap jadi teror. Tiba-tiba ada tempat peribadatan diledakkan di Ambon sana, maupun di kota-kota lain di Indonesia. Belum lagi ancaman bom di sana-sini tanpa jelas siapa pelakunya, ataupun apa maunya.

Dalam skala kengerian, mungkin teror a la sekarang lebih menakutkan. Sementara, dalam skala keberanian, lagi-lagi sejarah sudah membuktikan orang ' dulu' lebih berani pasang badan. Katakanlah Hitler itu jelmaan setan, tapi dia memang tidak pernah 'sok imut' dan selalu tampil di depan. Ia bukan cuma sekedar jadi tokoh yang dikenal via kabar angin. Atau, kalau ingat juga peristiwa Olimpiade di Munich tahun 70'an, minimal ancaman dan motivasi pelaku keributan jelas. Di luar apakah kita harus setuju secara politis atau tidak, tapi siapa pelaku dan apa maunya sekali lagi, diungkapkan dengan jelas.
Sebetulnya itulah hal yang paling menakutkan di jaman sekarang ini, tampak jelas tapi tak jelas, ada kejahatan, tapi pelakunya tak terlihat, ada ancaman, tapi tak jelas siapa yang mengancam. Ketidak-jelasan rupanya jelas-jelas sudah resmi jadi momok dalam kehidupan kita sekarang. Jadi, perangilah ketidak-jelasan. Sekarang.








7 comments:

aNdicTed said...

Terrorism: kegiatan menakut-nakuti, mengancam, mensabotase dll yang bertujuan untuk menimbulkan kecemasan/kepanikan demi tujuan/kepentingan yg lebih besar. kebanyakan teror dilakukan untuk mendapatkan efek publikasi yang besar (dari kuliah Terorisme dan Kejahatan transnasional)... (halaahh).

Anonymous said...

Problemnya tetap sama, yang mau diciptakan adalah ketakutan skala besar dengan mencoba menguasai (overpowering) pihak lain, tapi siapa pelakunya tak pernah pasang badan dengan berani. Itu aja. Gue ga stuju dengan bagian 'kepentingan yang lebih besar'. Says who?

andicted said...

the real terrorist adalah yang mengaku bertanggung jawab setelah beraksi.. ituwh yang membedakan dgn aksi kriminal biasa.

dan pengakuan melalui media itulah yg kemudian memberi mereka efek publikasi, ditambah berita-2 ttg aksi yg mereka lakukan sebelumnyah..

Anonymous said...

kayaknya andicted enggak nyambung. karena sejauh ini enggak ada teroris yang betul-betul mengaku, yang ada 'ngeles'. jadi yang diciptakan adalah ketakutan plus aksi fitnah. memang lewat media sih, tapi yang namanya pengakuan pasang badan itu tidak ada. udah deh, enggak usah sok tau.

andicted said...

kalo ituwh pendapat anda, silakan ^^. sayah tidak berkewajiban untuk mengatakan mana yang betul mana yg nggak ^^. sayah hanya memberikan yg menurut sayah terbaik

abHIe said...

eh, lo pada ngomongin teroris ya ? yang satu berdasar fakta, yang satu berdasar teori.. man, gw sampe 2 kali ngambil mata kuliah ttg terorisme saking excitedx.. nimbrung aahhh.. hehehe..

gini, apa yg terjadi di Indonesia bisa berbeda dengan di belahan dunia lain. okelah, Teroris emang mengaku bertanggung jawab setelah beraksi, tapi gimana dengan pelaku teroris di Indonesia yang gak ngaku ? mereka tetap disebut teroris karena punya tujuan yang lebih besar, aksi teror adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut.
kita liat contoh kasus di Spanyol, ingat peledakan yang di madrid itu ? setelah kejadian, walaupun gak segera Euskadi Ta Askatasuna (Kelompok Basque) menyatakan bertanggung jawab. aksi teror dengan gas sarin di Subway Tokyo tahun 95, Aum Shinrikyo menyatakan bertanggung jawab. aksi teror tersebut mereka lakukan untuk medapatkan perhatian, supaya apa yang mereka tuntut bisa lebih terdengar.

sekedar referensi nih ya, coba degh lo pada nonton filmx Long Road To Heaven, ato lo baca bukux A.C. Manullang ttg terorisme dan intelijen ;)

Prima Rusdi said...

Teman-teman yang baca. Tulisan ini sebetulnya tidak bicara soal terorisme saja, tapi soal konsep budaya takut dan menakut-nakuti. Dan ini sudah berlaku sejak jaman orba, 'teror' (bukan terorisme lho) macam penculikan aktifis politi, 'teror' pembredelan, 'teror' ini dan itu supaya orang tidak berani bicara dan berpendapat. Semua tulisan di blog ini kebanyakan mempertanyakan ulang apa yang terjadi sekarang untuk kemudian disikapi masing-masing tanpa paksaan. Buat saya, teror seperti penerapan tarif tidak resmi seperti kemana sih selama ini larinya duit pajak? Atau fiskal kalau kita bepergian, itu sudah mengimplikasikan ketidak-jelasan. Ketidak-jelasan itu sendiri buat saya adalah sebuah bentuk terorisme. Karena saya percaya transparansi, diskusi, dan kalau perlu konfrontasi langsung. Kebetulan saya sempat kuliah jurusan International Communications meskipun ujung-ujungnya bikin film. Tapi buat saya landasan teori itu gunanya bukan untuk jadi dogma, dan tetap bisa dipertanyakan ulang. Jadi sekali lagi silakan lihat dengan beragam cara, praktek oke, teori ya silakan he..he..he..

"Long Road to Heaven" udah nonton karena kebetulan produser dan sutradaranya teman lama. Satu referensi lagi yang lagi boleh dicek adalah film "Paradise Now" buatan Palestina. Tentang seseorang yang jadi teroris karena berniat lari dari kemiskinan dan membebaskan diri dari stigma warisan ayahnya. Secara cerita, bukan teori, motivasi si tokoh ini buat saya jadi jelas (di luar kita harus setuju atau tidak), kenapa ia jadi teroris.

Terima kasih atas komentar dan masukannya. Sekali lagi, tulisan ini tidak hanya ngomongin soal teror/terorisme, tapi konsep budaya takut yang kadung kita beli selama ini. Dan sikap yang saya selalu percaya bahwa kita juga punya hak bicara untuk bilang tidak setuju dengan kekerasan/ketidak-jelasan. Tapi, itu kan sikap saya. Kalau tidak setuju ya enggak pa-pa juga.

Saya surprised karena tanggapan terhadap tulisan kecil ini cukup ramai. Untuk itu, terima kasih.

Salam, Prima