Tuesday, December 12, 2006

Catatan dari Festival di Kawasan 'Bikinan CIA'











"Asia Tenggara itu kawasan bikinan, dia cuman ide, mitos, tapi sebenarnya kalau lo nanya apa yang jadi pemersatunya-gue bilang ga ada...kali," jawab teman saya via e-mail. Saya punya komitmen tidak mau 'dropping names', jadi sebut saja teman saya ini kandidat phD di Jepang sana, sarkastiknya barangkali setaralah dengan saya, biarpun saya masih menang jutek (teman saya yang lain bilang, "jutek lo itu bawaan orok.." Saya ketawa, kalau percaya tiap orang punya 'bakat'- maka bakat saya adalah menertawakan diri sendiri, karena itu hobi yang gratis dan sehat. Semoga.). Percakapan di atas (chatting tepatnya), terjadi waktu saya dan beberapa teman sedang mempersiapkan sebuah festival film pendek Asia Tenggara.

Lalu, tanggal 23 November, para narasumber dari Asia Tenggara itu duduk di Galeri Cipta untuk berdiskusi dengan sejumlah pembuat film muda Indonesia. Salah satu narasumber 'andalan' kami adalah seorang kawan dari Malaysia yang membuka diskusi dengan bilang, "Sebenarnya Asia Tenggara itu bikinan CIA, buat mengganjal komunisme masuk ke kawasan ini. Tapi, ya udahlah, karena kita udah di sini anyway, sekalian aja kita buat sesuatu yang seru buat kebaikan bersama!" Ajang itu lalu membicarakan banyak hal seputar film dan pertanyaan dasar soal perlu tidaknya forum yang mempermudah bertemunya para pembuat film di kawasan 'bikinan CIA' ini. Inti pengadaan acara festival film memang kurang lebih ya begini ini, diskusi, nonton, memberanikan diri memberi copy film karya sendiri ke pihak-pihak yang tampaknya kompeten 'memperpanjang umur' film-film yang sudah dibuat dengan berdarah-darah dan kerap dengan biaya pribadi itu. Festival film itu pekerjaan, buat orang-orang yang percaya membuat film (mudah-mudahan) adalah pekerjaan; bukan ajang tampil.

Kalau Anda tanya, "Lha, karpet merahnya di mana Prim?" Silakan tanya ke toko karpet terdekat. Saya enggak bisa jawab, soalnya saya cuma pekerja film pemula. Tapi entah kenapa saya percaya, kalau kita serius mau membangun industri film, alat ukurnya bukan berapa ratus meter karpet merah yang perlu kita lewati, tapi berapa banyak pekerjaan yang bisa kita pertanggung-jawabkan. Soal pertanggung-jawaban ini baliknya akhirnya ke komitmen kita pada diri sendiri. Dan untungnya, sampai sekarang saya masih punya sejumlah teman juga 'guru' yang punya keyakinan dan prinsip kerja yang kurang lebih sama. Jumlah mereka enggak banyak, tapi mereka ada. Tanpa mereka, sudah lama 'dunia persilatan' ini luluh lantak istilahnya.

(Terima kasih kepada Lenin dan bapak ibu serta teman-temannya, Para Jenderal, the Ad-Hoc dan the Cure)










1 comment:

alex sihar said...

ANJING GUA GANTENG YAK!!!
HEHEHE...