Wednesday, January 30, 2008

Zona Film (Penting)




Menjurikan belasan film dalam waktu kurang lebih satu minggu adalah pekerjaan yang seru tapi menantang. Masih 'untung' (paham kita adalah untung terus!), kami menonton film-film itu di bioskop. Setiap hari kami menonton sekitar dua hingga tiga film. Pemutaran pertama di pagi hari kerap jadi perjuangan tersendiri. Dinginnya Slovakia di bulan Desember membuat pemutaran di jam 9.30 pagi itu membuahkan kelucuan tiap kali. Lucu 1, teman Singapura saya 'enggak bakat' bangun pagi. Lucu 2, entah kenapa pihak panitia merasa perlu mencek soal status kawan Singapura saya ini ke? Saya bo'. Lucu 3, saya tahu banget buat sebagian panitia mereka sendiri kerap bingung membedakan mana yang dari Indonesia dan mana yang dari Singapura. Lucu 4, kita punya mitos orang Singapura itu paling disiplin di region kita. Lucu 5, sebener-benernya, saya adalah satu-satunya tamu yang dapat kamar di lantai tiga sementara yang lain di lantai tujuh. Lucu 6, teman Perancis saya juga enggak kalah leletnya karena dia banci gaul malam hari yang kerap dengan suka rela mengerahkan semua daya upaya termasuk traktir kanan kiri supaya orang-orang mau nongkrong sampai pagi. Lucu 7, saya asli cuman dimintai tolong ngurusin si teman Singapura ini, sementara si Perancis itu enggak ada yang ngurusin karena dia lebih bawel dari saya (biarpun sebetulnya dia manis hati).

Arahan dari Pak Ketua Juri asik sekali! Sebelum pemutaran hari pertama beliau bilang, kami ada di situ untuk mencari film yang masuk kategori 'penting'. Karena film tidak kenal bangsa atau bahasa, film itu punya logika dan zona sendiri. Di dunia ini ada film -film yang bagus dan film-film jelek, maka di setiap festival tugas juri adalah mencari film 'penting' itu tadi. Bagaimana caranya kita mengenali film-film 'penting'? Kalau ceritanya jelas, isunya juga relevan bagi penonton di belahan dunia manapun, dan isu itu juga relevan dengan konteks/masa sekarang.


Tidak ada rapat penjurian yang perlu sampai berdarah-darah. Rapat-rapat kecil dilakukan sambil makan siang. Kami diminta membuat catatan ringkas untuk penjurian akhir. Bila kami sedang bersama sutradara yang filmnya kebetulan masuk ke dalam penjurian, kami tak akan berdiskusi, tapi lebih ngobrol 'normal'.


Masuk ke dalam PR saya adalah mengamati bagaimana perilaku Pak Ketua Juri tiap kali kami usai menonton. Bila sang sutradara kebetulan ada di lobby bioskop usai kami menonton, Pak Ketua Juri dengan elegan akan menjabat tangan sang sutradara, sambil mengangguk sopan atau menepuk pundak sutradara itu. Beliau tak akan bicara berlebihan, tapi menjalankan paham setiap film yang berhasil dibuat patut dihargai. Itu pelajaran juga buat kami-kami yang terhitung masih pemula. Pernah juga usai kami menonton sebuah film yang banyak dipuja-puji di media, Pak Ketua Juri langsung menelepon entah siapa dengan HP-nya. Tak lama kemudian, staf festival memberikan beberapa file yang di-fax kepada Pak Ketua Juri. Dan Pak Ketua Juri berkata kepada kami, "Kawan saya yang kepala bagian psikiatri di sebuah RS di AS baru mengirimkan fax buat kita. Isinya bilang, kondisi seperti di film yang baru kita tonton tadi tidak mungkin!" Dalam paham film, soal kredibilitas ini adalah nomor satu. Kalau cerita tidak kredibel alias mengada-ada, atau/apalagi menimbulkan tafsir yang salah dan hanya jadi sensasi saja tanpa dukungan fakta berarti lupakanlah buang waktu mendiskusikannya.


Di malam penjurian kami ditempatkan di sebuah hotel terapung, dan di sana kami tinggal merekapitulasi hasil-hasil obrolan selama seminggu itu. Malam itu kami memilih Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik dan Aktris Terbaik. Dan sukurlah memang ada film yang 'penting'. Film itu bicara soal kawin paksa di Cina daratan, disutradarai oleh Yang Li. Dan film berjudul "Blind Mountain" itulah yang kami pilih.



No comments: