Saturday, April 14, 2007

EKSIL dan Ekspektasi




Akhirnya saya sempat buat catatan sedikit dari forum diskusi yang sebetulnya sudah berlangsung cukup lama, tanggal 30 Maret silam. Hari itu, peluncuran buku "Melawan Dengan Restoran: Kisah Sobron Aidit dan Kaum Pelarian G30S/PKI di Perancis." Teman saya jadi salah satu pembicara dalam diskusi acara itu.

Kawan saya bilang ia merasa seperti "dihukum oleh harapan sendiri" karena sempat bertemu Sobron di masa hidupnya, dan ia sempat berharap sosok Sobron yang lebih 'gelap', terkait dengan masa lampau yang dilaluinya. Namun Sobron adalah sosok pria biasa, bekerja di restoran Indonesia, dan sungkan bicara tentang kehidupannya sebagai 'orang buangan' yang membuatnya harus hidup di negeri seberang.

Kenapa kawan saya, dan mungkin juga banyak orang lainnya yang kadung 'terperangkap' nama Aidit, berharap 'lebih'? Argumennya adalah, kehidupan para eksil tidaklah seromantis yang dibayangkan banyak orang. Tapi kenapa Sobron menuliskan kehidupannya dengan begitu 'ringan'. Adakah ini unsur kesengajaan? Pengingkaran? Terapi buat menghilangkan kepahitan masa silam? Apa?

Bagi yang sempat kenal Sobron, ia selalu menolak disebut aktifis politik. Betul ia adalah adik DN Aidit, tapi Sobron adalah Sobron dan bukan abangnya. Sebagai pembaca tulisannya, saya sendiri juga sempat bertanya-tanya, kenapa Sobron lebih merasa perlu bercerita soal tetangganya di Jakarta yang punya profesi dokter, atau soal pengalamannya saat tinggal di asrama mahasiswa di Cina? Kenapa bukan soal lain yang lebih 'seru'?

Ini tidak ada urusan dengan kemampuan Sobron menulis lho. Tulisannya enak dibaca dan ditulis dengan benar. Tapi ya itu, harapan kita bahwa dia akan mengajak kita ke dunia kaum eksil itulah yang tak pernah terwujud. Meski demikian, ada sejumlah tulisannya yang terasa menyentuh dan sangat personal, seperti yang dibacakan oleh Amarzan Loebis, tulisan itu dibuat Sobron saat istrinya wafat. Dan kita, para pembacanya, diperkenankan untuk 'masuk' ke dalam suasana hatinya yang saat itu sedang kelabu. Saat itu terasa sekali Sobron menulis sebagai manusia, laki-laki, suami, dan ayah yang sedang gundah.

Barangkali semua yang sudah dituliskannya untuk pembaca memang pilihan Sobron, dalam konteks sebagai pria sederhana itulah ia ingin dikenang, dan selebihnya 'kebetulan' dia adik DN Aidit, dan 'kebetulan' ia seorang eksil. Jangan-jangan ini bukan penyederhanaan tapi pilihan yang dilakukannya secara sadar. Yang jelas, apapun pilihan alm. Sobron, ia patut dikenang.




No comments: