Wednesday, February 28, 2007

Stigma







Klasifikasi itu bisa memproduksi stigma. Itu yang saya pelajari dalam setahun belakangan ini. Tahun lalu, saya dan teman-teman memberi pelatihan video diary di lima kota. Di kelima kota itu kami bekerja dengan murid-murid SMA dari sekolah-sekolah unggulan. 'Pelajaran' tahun lalu adalah: Sekolah-sekolah 'unggulan' kerap dihuni murid-murid dengan tampilan 'sok unggul', mungkin karena percaya cukup dengan bersekolah di sekolah 'unggulan', mereka akan otomatis jadi 'unggul'.

Tahun ini, pelatihan video diary teman-teman saya terpencar di sejumlah kabupaten, tepatnya di 10 sekolah 'non-unggulan'. Dan 'pelajaran' tahun ini bagi kami adalah: di sekolah-sekolah 'non-unggulan'', banyak murid yang kadung percaya mereka sudah tidak bisa diunggulkan dari aspek apapun. Para guru di sana juga anehnya banyak yang sependapat, "...ya memang begini ini keadaannya.." begitu keluhan yang kerap terdengar. Di beberapa sekolah, kondisi ini bisa lumayan terselamatkan saat kami memperlihatkan beberapa contoh video diary karya sejumlah peserta pelatihan tahun lalu (di antaranya para murid SMA 'unggulan' yang saya sebut di atas, penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak-Anak Tangerang, juga teman-teman di daerah Karang Ploso, Piyungan-salah satu kawasan yang dihantam gempa tahun lalu).


Melihat beberapa video diary yang diputar, apalagi setelah mengetahui sejumlah video diary itu lalu diputar di sejumlah festival film, bahkan ada yang akan berangkat ke Yunan (Cina), juga ke Kentucky (AS), umumnya calon peserta tampak jadi bersemangat. Tapi ada juga yang tidak bereaksi apa-apa. Karena mereka kadung percaya, bersekolah di sekolah non-unggulan itu adalah stigma yang akan melekat selamanya. Mereka percaya, mereka tak bisa berbuat apa-apa, itu soalnya. Salah siapa? Kalau tanya ke saya: para pengurus sekolahnya, sistim pendidikan kita, dan kita semua-karena mau menerima ketidak-tahuan kita..








1 comment:

Iwan Syahril said...

bener.. ya salah kita karena ketidaktahuan akan ketidaktahuan kita. maka kita perlu untuk mencari tahu apa yang kita tidak tahu. jangan menyerah dan terperangkap akan ketidaktahuan yang absolut!

negative labeling - gifted vs non-gifted, accelerated vs regular, unggulan vs non-unggulan, atau jurusan IPA vs non IPA - sangat diskriminatif dan memvonis siswa sejak dini dalam erangkap label itu tadi. syukur2 kalau labelnya bagus, kalau jelek? dan setahu saya, memang golongan "unggul" itu jumlahnya sengaja dbikin sedikit, kaum elitis. seperti ilustrasi kurva lonceng (bell curve), dimana di bagian kanan - dengan jumlah yang sedikit, adalah golongan yang unggul. bagian tengah - bagian tergemuk - adalah golongan yang normal. lalu bagian kiri, yang sedikit juga, adalah golongan cacat, yang labelingnya paling kejam. mulai dari learning disabilities dan berbagai penyakit belajar lainnya.

pertanyaannya adalah: apa dasar dijatuhkannya vonis labeling itu tadi? asumsi2 ini yang patut kita pertanyakan!

berbagai riset dari ilmu psikologi kognitif (cognitive psychology) sudah menjelaskan lebih jauh tentang bagaimana manusia belajar dengan lebih baik. riset-riset ini menggugat habis asumsi-asumsi dari ilmu psikologi perilaku (behavioral psychology), yang cnederung berannggapan bahwa proses belajar itu linear dan ada golongan unggul, normal dan cacat itu tadi. asumsi-asumsi ini yang menyebabkan praktek2 diskriminatif ini terjadi. menurut saya ini harus dirombak habis! karena every one has gifts that make them unique in their own ways. there are many ways to be smart. and it is not about how smart you are, but how you are smart!

salam pendidikan,
iwan