Friday, November 03, 2006

Sewell vs. Quest




Brian Sewell adalah ahli sejarah dan kritikus seni asal Inggris. Sewell punya reputasi 'mengerikan' karena keberaniannya berpendapat. Tapi CNN rupanya masih nekat menjadikannya narasumber di segmen acara "Quest" yang dipandu John Quest.

Quest pun menyambangi Sewell di National Gallery, London. Kepada Sewell, Quest mengaku sebagai orang awam yang tak paham bagaimana membedakan mahakarya dari karya-karya seni 'biasa'. Sewell menggiring Quest ke depan salah satu lukisan Caravaggio, "The Supper at Emmaus" (1602). Lukisan itu menggambarkan kehadiran Yesus, setelah kebangkitannya, di tengah-tengah sebuah jamuan makan malam. Yesus duduk di ujung meja, sementara yang lainnya duduk berseberangan di kedua sisi meja. Sewell meminta Quest mencari titik tempat berdiri yang paling pas untuk bisa melihat lukisan itu secara utuh. Quest pun berdiri di sudut kanan lukisan itu, seolah tepat di 'seberang' Yesus. "Kenapa pilih di situ?" tanya Sewell. "Karena dari sini saya merasa seolah-olah 'hadir' di perjamuan itu," jawab Quest. "Persis! Most masterpieces work in that fashion. They invite you in.." jelas Sewell.

Wow! Saya salut dengan cara penjelasannya yang begitu efektif dan bisa dipahami oleh siapapun. Di sesi wawancara Quest bertanya, "Jadi sebetulnya apa sih tugas kritikus seni seperti Anda?" Jawaban Sewell, "Mengajak orang untuk 'mengalami', supaya mereka bisa punya pendapat sendiri dan karenanya 'terlibat' di dalam hasil kerja seni/kreatif. Sialnya, banyak kritikus yang mengira tugas mereka adalah sebagai 'penjagal' yang kerjanya cuman membantai hasil kerja seni, sambil memamerkan pengetahuan pribadi." Waduh, pikir saya.

Ketajaman 'bacot' Sewell belum berhenti di sini, pertanyaan Quest yang berikutnya adalah, "Anda selalu punya pendapat yang keras soal 'modern arts', kenapa?" Sewell menjawab, "Karena kebanyakan 'karya' 'modern arts', tidak jelas dibuat untuk siapa dan dengan dasar pemikiran apa. Para seniman 'modern' ini juga kerap enggak bisa menjelaskan pekerjaan mereka sendiri dengan 'genah', tapi justru berkilah di balik istilah-istilah besar yang abstrak seperti 'sarana kebebasan ekspresi diri'lah, karya 'personal' lah, dan all that crap.." Ampyuun.. Tapi Quest masih bertanya lagi, "Tapi, kan orang-orang seperti Anda selalu mengkritik mereka dengan tajam. Kalau memang tidak didengarkan juga, menurut Anda, mereka selama ini bekerja untuk siapa?" "Itulah!" sambar Sewell, "Orang-orang ini tidak merasa perlu mendengarkan siapa-siapa, kecuali, teman-teman mereka sendiri. Ini yang bikin bete, karena orang-orang seperti ini ngakunya seniman, tapi tidak perduli karya, juga tidak pernah menganggap dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas. Ujung-ujungnya sok nyeni, tapi jadi elitist juga, karena ingin diakui sebagai 'the lucky few' yang punya talenta.." Pertanyaan terakhir Quest adalah, "..dengan sikap Anda yang begini, apakah Anda punya teman?" Jawaban Sewell, "Kewajiban saya bukan cari teman.." Segmen itu selesai.

Buat saya esensi isi 'bacot' Sewell rasanya seperti double espresso tanpa gula racikan Supri van Tornado, 'tajam', 'nendang', dan bikin mata 'melek'. Mengaku sajalah, berapa sering kita-kita ini (baca: para pekerja kreatif, saya belum berani bilang pekerja 'seni'-masih jauh), mengerjakan sesuatu dan terbuai puja-puji teman-teman sendiri? Padahal, memang betul, semua pekerjaan kreatif/seni itu kan ujung-ujungnya ya harus dilempar ke masyarakat luas? Dari sudut pandang yang lain, barangkali sering juga pekerjaan kita jadi santapan para 'kritisi' yang merasa lebih paham menilai pekerjaan orang lain dan karenanya berhak 'membantai' pekerjaan yang dikritiknya sekaligus para pekerja yang terlibat di balik karya itu, seolah-olah dunia jadi lebih baik kalau ada pekerja kreatif/seni yang mengundurkan diri karena masa depannya sudah 'ditumpas' oleh 'kritisi'. Atau yang lebih parah lagi, karena pekerjaan kreatif/seni itu memberi ruang bagi kita untuk memanjakan ego, sejujurnya barangkali kita kerap lupa, pekerjaan kita itu sebetulnya buat siapa? Dan, kalau 'terjerumus' jadi elitist, berarti kita sebetulnya ada dalam proses 'membunuh' pekerjaan kita sendiri. Atau kalau kita kadung merasa sudah mapan atau 'ahli' padahal baru menghasilkan beberapa pekerjaan, itu berarti kita merasa sudah boleh berhenti 'mencari'-padahal perjalanan kita masih panjang.

Mungkin 'pelajaran moral' dari Sewell adalah, enggak ada salahnya kita sering-sering bertanya pada diri sendiri, "..kita ini lagi ngerjain apa sih? Untuk siapa?" Karena kalau kita sendiri sudah gelagapan enggak bisa jawab, gimana mau berharap orang lain bakal paham ya?




2 comments:

Jenny said...

Dear Mbak Prima,

Perkenalkan, saya Jenny. Saya salah satu ‘penggemar’ tulisan-tulisan Mbak, dan senang sekali ketika akhirnya menemukan buku ‘Perjalanan Mata & Hati’ (juga blog ini )
My favourites from the book were ‘Perjalanan Mata & Hati’ and ‘Jeda’; and I’m deeply touched by ‘Perjalanan ‘TB’’. Izinkanlah saya bercerita sedikit tentang mengapa kisah terakhir ini begitu berkesan.
8 atau 9 tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, kami diajar oleh guru matematika bernama Pak Orani Harefa. Usianya masih terbilang muda, 28 tahun. Agak berbeda dari Ibu ‘TB’, Pak Harefa amat sabar dalam mendidik murid-muridnya. Beliau senantiasa mengajar dengan detail, bersedia mengulang penjelasan tanpa mengkritik, selalu memberi tambahan waktu ketika ulangan, dan tidak pernah marah/menghukum. Namun di mata kami, semua itu bukanlah mujud kemuliaan hati, melainkan sikap lembek dan ‘tidak berdaya’ yang menyebabkan kami tidak segan-segan berlaku tidak hormat kepadanya. Kami mengobrol dan bercanda dengan bebas ketika beliau mengajar. Kami bersikap sesuka hati. Kami bahkan makan di dalam kelas. Salah satu perbuatan favorit kami (termasuk SAYA) adalah mengajukan pertanyaan kepada beliau dengan mulut mengunyah makanan secara terang-terangan. Dan Pak Harefa selalu bersedia menjelaskan!
Kalau dipikir sekarang, rasanya tindakan kami itu betul-betul sudah di luar batas. Tetapi ketika melakukannya 9 tahun yang lalu, yang ada hanyalah rasa bangga. Bangga karena berani ‘melawan’ seorang guru. Senang karena berhasil melampiaskan rasa sebal akibat ‘penindasan’ guru-guru killer yang lain. Dan saya pun, dengan tega melibas hati nurani demi melakukan hal yang sama.
Siang itu, Pak Harefa tidak hadir. Bukannya bertanya-tanya, kami sekelas malah bersuka ria menikmati jam kosong. Sampai Kepala Sekolah masuk, dan memberi pengumuman. Pak Harefa telah meninggal dunia.
Beliau mengalami serangan jantung di dalam angkutan umum yang ditumpanginya pada perjalanan menuju sekolah, dan meninggal di tempat yang sama. Tanpa penolong, tanpa ada yang menemani. Bahkan dompetnya raib dicuri orang.
Saya terhenyak. Seluruh murid membisu. Hari itu, kami menangis dan tercenung.
Sampai hari ini, saya masih tercenung.
Seandainya dulu saya bicara dengan sopan kepada Pak Harefa.
Seandainya dulu saya tidak bersenda gurau dengan suara keras saat beliayu mengajar.
Seandainya dulu saya tidak bertanya sambil mengunyah permen di depannya.
Seandainya dulu saya bersedia menilik nurani dengan kebijakan dan rasa hormat… tentunya saya tidak perlu melukai hati mulia seorang guru yang telah begitu telaten mendidik murid-muridnya.
Maafkan kami, Pak Harefa.

Terimakasih ya Mbak Prima, untuk tulisan-tulisan yang begitu kaya makna. Semoga dari tulisan-tulisan tersebut, remaja Indonesia dapat belajar dan semakin dibukakan mata & hatinya, agar ke depannya dapat menjadi generasi penerus bangsa yang tidak hanya advanced dalam pengetahuan & trend, namun juga manusia seutuhnya – yang matang dalam berpikir, bertindak, dan berperilaku.

Regards,
Jenny (j3nnyjusuf@yahoo.com)

Jenny said...

Dear Mbak Prima,

Perkenalkan, saya Jenny. Saya salah satu ‘penggemar’ tulisan-tulisan Mbak, dan senang sekali ketika akhirnya menemukan buku ‘Perjalanan Mata & Hati’ (juga blog ini )
My favourites from the book were ‘Perjalanan Mata & Hati’ and ‘Jeda’; and I’m deeply touched by ‘Perjalanan ‘TB’’. Izinkanlah saya bercerita sedikit tentang mengapa kisah terakhir ini begitu berkesan.
8 atau 9 tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, kami diajar oleh guru matematika bernama Pak Orani Harefa. Usianya masih terbilang muda, 28 tahun. Agak berbeda dari Ibu ‘TB’, Pak Harefa amat sabar dalam mendidik murid-muridnya. Beliau senantiasa mengajar dengan detail, bersedia mengulang penjelasan tanpa mengkritik, selalu memberi tambahan waktu ketika ulangan, dan tidak pernah marah/menghukum. Namun di mata kami, semua itu bukanlah mujud kemuliaan hati, melainkan sikap lembek dan ‘tidak berdaya’ yang menyebabkan kami tidak segan-segan berlaku tidak hormat kepadanya. Kami mengobrol dan bercanda dengan bebas ketika beliau mengajar. Kami bersikap sesuka hati. Kami bahkan makan di dalam kelas. Salah satu perbuatan favorit kami (termasuk SAYA) adalah mengajukan pertanyaan kepada beliau dengan mulut mengunyah makanan secara terang-terangan. Dan Pak Harefa selalu bersedia menjelaskan!
Kalau dipikir sekarang, rasanya tindakan kami itu betul-betul sudah di luar batas. Tetapi ketika melakukannya 9 tahun yang lalu, yang ada hanyalah rasa bangga. Bangga karena berani ‘melawan’ seorang guru. Senang karena berhasil melampiaskan rasa sebal akibat ‘penindasan’ guru-guru killer yang lain. Dan saya pun, dengan tega melibas hati nurani demi melakukan hal yang sama.
Siang itu, Pak Harefa tidak hadir. Bukannya bertanya-tanya, kami sekelas malah bersuka ria menikmati jam kosong. Sampai Kepala Sekolah masuk, dan memberi pengumuman. Pak Harefa telah meninggal dunia.
Beliau mengalami serangan jantung di dalam angkutan umum yang ditumpanginya pada perjalanan menuju sekolah, dan meninggal di tempat yang sama. Tanpa penolong, tanpa ada yang menemani. Bahkan dompetnya raib dicuri orang.
Saya terhenyak. Seluruh murid membisu. Hari itu, kami menangis dan tercenung.
Sampai hari ini, saya masih tercenung.
Seandainya dulu saya bicara dengan sopan kepada Pak Harefa.
Seandainya dulu saya tidak bersenda gurau dengan suara keras saat beliayu mengajar.
Seandainya dulu saya tidak bertanya sambil mengunyah permen di depannya.
Seandainya dulu saya bersedia menilik nurani dengan kebijakan dan rasa hormat… tentunya saya tidak perlu melukai hati mulia seorang guru yang telah begitu telaten mendidik murid-muridnya.
Maafkan kami, Pak Harefa.

Terimakasih ya Mbak Prima, untuk tulisan-tulisan yang begitu kaya makna. Semoga dari tulisan-tulisan tersebut, remaja Indonesia dapat belajar dan semakin dibukakan mata & hatinya, agar ke depannya dapat menjadi generasi penerus bangsa yang tidak hanya advanced dalam pengetahuan & trend, namun juga manusia seutuhnya – yang matang dalam berpikir, bertindak, dan berperilaku.

Regards,
Jenny (j3nnyjusuf@yahoo.com)