Friday, September 05, 2008

ngupingjakarta.blogspot.com

Tuesday, September 02, 2008

Satu Pertanyaan untuk 44 Orang Tua..







"Jadi, kalau keluar dari sini, kamu mau langsung ngapain?" tanya kawan saya. "Minum Teh Botol dingin kak," jawab anak perempuan itu. "Emangnya di sini enggak bisa?" tanya kawan saya lagi. "Bisa, tapi harus yang di kardus atau dalem plastik. Enggak bisa megang botolnya," itu jawaban final si adik yang ditanya.

Minggu lalu (26-29 Agustus 2008), saya diajak beberapa kawan yang diminta mengasisteni seorang fotografer dari AS untuk memberikan pelatihan esai-foto di LAPAS Anak-Anak Perempuan Tangerang. Total ada 22 peserta, dari usia 14-20 tahun. Dan karena objektif pelatihan ini adalah mengajak adik-adik peserta itu bercerita melalui foto-foto yang mereka ambil, tak urung cerita-cerita mereka itulah yang ikut terbawa pulang oleh kami yang ada di sana.

Ada cerita tentang "S", yang termuda di kelas itu. S sudah menggunakan pil ekstasi sebelum berusia 12 tahun. Hari itu ia menunjukkan fotonya yang pertama, sebuah T-Shirt berukuran besar yang gambarnya hampir pudar. Rupanya itu bekas milik almarhum ayahnya. Kaos usang itu disimpan rapi di salah satu laci milik S. "Kalau pusing atau sedih, pasti saya pakai," cerita S.

Lalu giliran "H" menunjukkan foto lampu jalanan yang diambilnya. "Kenapa kamu motret ini?" tanya saya. "Soalnya dulu saya jarang pulang ke rumah," katanya. H punya cara bercerita yang menurut saya luar biasa. Bukan khas chick lit atau teen lit seperti anak-anak sebayanya. Salah satu fotonya menunjukkan ia membuka jendela kamarnya di tahanan itu, "Dulu saya enggak mungkin bangun pagi!"
"Kak, tolong bilang kakak yang itu saya pingin foto surat ini. Penting!" desak R pada saya sambil menunjuk salah seorang teman saya yang membawa kamera 'serius'. "Dari pacar kamu ya?" goda saya. R menggeleng, mempersilakan saya membaca. Ditulis kurang dari satu paragraf dengan tulisan naik turun. Penulisnya rupanya tak lain adalah adik si R yang meminta maaf karena sang kakak terkurung di LAPAS itu akibat berniat membantunya bersekolah. Di akhir suratnya sang adik menulis, "Kalau sudah keluar dari sana, semua pasti lebih baik." R dan adiknya dibesarkan seorang ibu yang bekerja sebagai pencuci pakaian, "Cuman bisa bawa pulang Rp. 150 ribu sebulan kak, padahal uang sekolah adik aja Rp. 200 ribuan lah," kisah R. Lalu R pun menjadi 'kurir' penjual narkoba di klub-klub malam. Penghasilannya kala itu? "Bisa Rp. 500 s/d Rp. 750 ribu satu malam," kata R lagi. Saat itu R belum lagi SMP kelas 2. Bisa diduga ia sendiri akhirnya sempat menggunakan pil-pil sial itu, sebelum akhirnya menjual ke aparat yang menyamar sebagai pengunjung di salah satu klub.

Di akhir pelatihan, ada 22 esai-foto yang luar biasa beragam dari adik-adik muda usia itu. Bagaimana mereka bisa bertahan di tempat itu masih jadi pertanyaan besar buat saya. Tapi pertanyaan yang lebih besar lagi saya alamatkan kepada 44 orang tua dari 22 remaja ini, kok berani-beraninya punya anak kalau ujung-ujungnya anak-anak itu harus berakhir di tempat ini?Apalagi sebagian dari ortu mereka ada yang tidak pernah muncul sama sekali, sampai-sampai salah seorang peserta pelatihan memotret pintu gerbang dari kejauhan karena cita-citanya setelah ke luar dari LAPAS itu adalah, "Mau nyari ibu, mau tanya kenapa dulu ninggalin saya, dan mau nanya tampang bapak kayak apa?"

*) Buat yang menonton film "Parenthood" ada kalimat yang menarik yang kurang lebih isinya begini: "Kalau nyetir aja perlu surat-menyurat, kenapa punya anak enggak perlu pakai izin siapa-siapa? Bukannya resikonya lebih besar?"



Saturday, August 16, 2008

Dongeng dari Dusun (2)-Drama KRONOLOGIS




Kapan terakhir kali kita bilang, "Saya enggak ngerti, bisa jelasin lagi?" atau, "Saya enggak tahu." Perbedaan antara mereka yang berani mengaku 'tidak tahu' dengan mereka yang mengaku 'serba tahu', sungguh jelas. Kelompok yang pertama biasanya akan lebih mudah dibantu dan juga biasanya akan lebih mudah disukai, belum lagi ironisnya kelompok ini sering kali lebih pintar dibanding dengan gerombolan 'serba tahu'.

Dan sore itu, usai presentasi salah satu kelompok di kelas penulisan naskah radio, salah seorang adik peserta menyoal penggunaan kata 'kronologis'. "Emangnya semua orang yang dengar pasti ngerti? Kemaren kan kita dikasih tahu kalau mau pakai istilah- harus yang semua pendengar ngerti?" Tentunya yang menulis naskah langsung menggelar pembelaan telak. Dan kalau kita simak dengan seksama, sebetulnya sang penulis juga salah kaprah menggunakan istilah yang dipilihnya sendiri.

Mentor lain akhirnya memotong debat itu dengan balik bertanya ke si adik yang melontarkan pertanyaan, "Kamu sendiri ngerti enggak maksudnya kronologis itu apa?" Si adik itu menjawab dengan lebih ngotot, "Justru itu saya nanya Bang!"

Kalau si adik itu punya kelompok penggemar, saya bakal segera daftar!


Friday, July 11, 2008

Dongeng dari Dusun (1)-Bekinnya Bukan Dicegat Preman!




Tanggal 2-8 Juli 08, sejumlah remaja dari beragam tempat yang jarang kita dengar keberadaannya (karena belum jadi sasaran infotainment), berkumpul di dusun Tembi, Yogyakarta. Yang bukan remaja lagi juga ada di sana dalam beragam kapasitas (fasilitator, mentor, panitia, dll). Saya beruntung ada di sana (kalau mau ngaku jadi salah satu mentor kok kedengarannya kelewat akademis, jadi sebut saja sebagai 'pawang' kali ya?) dan berbagi sejumlah catatan dari hasil mencuri dengar beragam cuplikan keseharian para remaja itu.

Di antara para peserta, ada yang datang dari kedalaman rimba pemukiman suku Anak Dalam (Jambi). Apa uniknya jadi remaja di sana? Kalau kita tanyakan pada Bekinnya (19 tahun) ia berkata ada dua hal yang kerap membuatnya jengkel. Yang pertama? "Kalau ketemu beruang! Kadang-kadang bisa beberapa kali sehari kak!" Bagi yang biasa pulang sekolah dan mentok di tingkatan takut dicegat preman, tentunya sulit membayangkan apa jadinya kalau dicegat beruang! Solusinya? "Kita harus menangis keras-keras! Karena beruang takut sama suara kambing, jadi kalau kita menangis keras-keras biasanya dia pergi."

Buat Bekinnya 'runner-up' pembuat bete adalah landak. Kenapa? "Karena landak nakal! Dia suka makan periuk (dandang pemasak nasi)." Tapi, bukannya masih mending landak dibanding beruang? "Siapa bilang? "Pernah juga kami lagi duduk-duduk di gubug, eh, gubug kami rubuh digigit landak.."




Friday, June 20, 2008

Pilih Terus Atau?





Pernah ada masa di mana saya berpikir akan ada ujung dari setiap pencarian. Apapun yang kita cari. Tapi benarkah? Sekarang saya mulai percaya bahwa:

Di usia balita kita cari 'tahu',
Di usia belasan kita cari 'ribut',
Di usia dua-puluhan kita cari 'citra' (baca jaim),
Di usia tiga-puluhan kita bisa pilih: cari 'aman' atau cari 'terus',
Di usia empat-puluhan dan seterusnya,
Buat yang cari 'aman' dia akan berhenti mencari,
Buat yang cari 'terus' dia tak akan berhenti mencari,
Pilih yang mana?

(foto spion oleh Aldi, terima kasih!)




Thursday, June 19, 2008

Pasir Pupur Minus Istana..














Ada satu tempat dengan pasir sehalus bedak, dan anak-anak yang setiap hari bermain di sana, dari siang hingga maghrib tiba. Kalau kita mampir, anak-anak itu akan sengaja bermain sambil mendekat. Kalau kita pindah lagi? Mereka ikut pindah. Begitu terus hingga kita harus menyerah dan bergabung bersama mereka.
"Kalian mau main apa? Bikin istana pasir?" kita bertanya. Tapi anak-anak itu menggeleng-geleng dengan wajah jenaka. "Pasir macam pupur begini mana bisa kak?" kata salah satu dari mereka. Betul juga. Jadi? Ya sudah, kita ikut saja lah baiknya. Pertama-tama terjun ke air laut, berenang-renang di airnya yang jernih itu. Setelahnya, bergulung-gulung diri di pasir. Begitu terus, berulang-kali.

(Kanan atas: Resi dan Zico, dua di antara kelompok anak yang bermain bersama kami hari itu ngotot tampil di depan kamera sebelum dia dan gank-nya pamit..)

(foto oleh Aldi, terima kasih!)





Tuesday, May 06, 2008

Ihwal PT Antilogo (di 'Semua Materi Publikasi')







Saya mabok logo. Asli. Pernah ada waktunya urusan logo ini buat saya penting enggak penting (asal enggak bikin pening). Saya ingat waktu di mana saya dan mitra saya, seorang Art Director, suka mencari hiburan dengan sengaja menempatkan logo sebesar-besarnya di semua tata letak yang hendak kami presentasikan ke si klien (a.k.a pemilik logo). Alasannya? Karena kami bosan dengar klien bilang, "Logonya bisa dibesarin sedikit?" Dengan cara membesarkan logo minimal kami jadi bisa mendengar versi keluhan lain, "Logonya bisa dikecilin sedikit?"

Sampai sekarang saya rupanya belum bisa bercerai dari logo. Bahkan saat meneruskan beragam kegiatan PT Pro Bono, di mana saya menjadi direktrisnya, saya tetap dikutuk logo. Sumprit. Untuk urusan IBM ke sejumlah pihak yang saya pikir (dengan naifnya ya, secara saya kan bukan produser beneran apalagi business woman seperti di majalah-majalah itu lho) tidak bakal berani menjadi preman logo (karena kebetulan sekali ini semua orang kerja gratis dengan suka rela buat bikin 11 film pendek untuk peringatan 10 tahun reformasi), tetap saja kalimat klasik, "Kami bantu, asal logo kami dimuat di semua materi publikasi kalian," terdengar dari mayoritas pemilik logo di lini apapun. Bagian yang paling lucunya adalah, saya bahkan tidak punya materi publikasi! Udah dibilang PT Pro Bono kok? He3. Saya tuh IBM justru supaya ada bantuan buat bikin materi publikasi, nah, dapetnya adalah paket hemat: barter (alias tidak ada dana cair) dengan bonus permintaan pencantuman logo. Cantumin aja di jemuran tetangga. Gimana?

Siapa sih yang paling berhak dapat pencantuman logo di 'semua materi publikasi' (kalau ada)? Saya rasa sih logikanya ya pihak yang memang paling mau ikut ribet memikirkan terealiasinya ide itu. Kalau bukan di tingkatan konsep, ya tentunya pendanaan. Kalau barter? Barter is jebakan Batman. Karena abstrak. Terus terang.
Masalahnya, bisa jadi kalau mau berpikir a la definisi saya soal siapa yang paling berhak dapat logo di 'semua materi publikasi', kemungkinan besar tidak bakal ada. Kecuali mungkin ortu kita, yang jelas-jelas jadi sponsor utama seumur hidup. Lha, mereka bahkan enggak minta logo tuh?


Intinya, kalau PT Pro Bono harus ganti nama, saya pilih PT Antilogo, supaya kalau saya menuntut minta logo saya dicantumkan di 'semua materi publikasi'-sejajar dengan logo-logo lain, logo saya akan berfungsi sebagai PSA buat berpikir ulang gunanya logo itu apa sih?


Catatan:
IBM-bisa berarti Intensive Begging atau Bitching Management, tergantung keadaan. BTW, PT Pro Bono tentunya bukan PT, buat jadi PT harus ada badan usaha. Buat jadi badan usaha, harus mampu menciptakan keuntungan. Nah, yang terakhir itu yang saya enggak bisa. "9808" Antologi 10 tahun reformasi yang durasi totalnya sekitar 110 menit adalah kompilasi film-film pendek hasil kerja bareng sejumlah pembuat film dan pekerja seni lainnya yang tergabung di dalam Proyek Payung. Bisa Anda tonton gratis di Jakarta, Kineforum TIM, 14-20 Mei 08; Yogya, 15 Mei; Semarang 25-27 Mei; Bandung 28-29 Juni, info lengkap di http://9808films.wordpress.com/